May 22nd, 2005 by andanya
Garda, anakku (8) suatu hari bertanya, “Bu, mengakui keburukan itu membutuhkan keberanian ya?”
Pertanyaannya itu berdasar pada peristiwa di kelas, ketika temannya sekelas ditanyai oleh ibu gurunya perihal makan di tempat tidur. Salah seorang kawannya tunjuk jari dan mengakui kalau dirinya masih suka makan di tempat tidur. Garda menangkap hal itu sebagai keberanian, “Itu kan namanya berani ya Bu?”
Mengakui keburukan adalah sulit. Apalagi pada orang dewasa. Butuh keberanian, memang.
Aku bersyukur Garda sudah menyadarinya sejak dini. Semoga dia bisa dengan berani mengakui, menerima segala kekurangannya, dan dengan berani pula memperbaikinya, sejak dini.
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
May 19th, 2005 by andanya
Komunikasi, sebuah kata yang sering menjadi kambing hitam, ketika terjadi konflik dalam relasi antarmanusia.
Komunikasi, secara verbal, bergantung pada kata. Kata selalu bermakna. Makna tidak pernah berdiri sendiri. Dia selalu mendasarkan diri pada konteks tempat kata itu tercipta, juga pengetahuan para pemroduksinya.
Komunikasi, secara verbal sekali pun, tidak hanya bergantung pada kata. Dia juga bergantung pada kondisi para pelakunya: sedang marah, sedih, tertekan, atau jatuh cinta.
Kebergantungan pada kata dan kondisi para pelakunya membuat pelaku komunikasi hanya dapat menafsir. Tafsir terhadap kata(-kata) yang diproduksi dan kondisi para pelaku. Menafsir perlu ada dalam kesadaran para pelaku komunikasi. Menafsir dalam kegiatan komunikasi melibatkan seluruh jati diri para pelaku komunikasi: perasaan, pengetahuan, intuisi, kreativitas, dan minat mereka. Dibutuhkan energi besar untuk itu agar komunikasi berhasil baik. Kegiatan menafsir berlaku bagi dua pihak-yang selalu diandaikan ada- dalam komunikasi.
Komunikasi tidak pernah sederhana.
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
May 16th, 2005 by andanya
Posted in Uncategorized | 2 Comments »