Menunggu (3): Jajan dan Jajan Terus…

Di sekolah anakku, ada pengurangan jumlah jam pelajaran. Hal ini cukup merisaukan para ibu, terutama mereka yang anaknya duduk di kelas III SD. Muris kelas III mendapat pengurangan paling banyak dibandingkan dengan kelas-kelas lain.

Pada awal September lalu, jam pulang sekolah murid kelas III SD berubah cukup signifikan. Tiga hari pertama setiap minggunya, mereka pulang pukul 10.15 dari yang awalnya pukul 12.30, sedangkan tiga hari sisanya, jam pulang menjadi pukul 12.05.

Hal yang merisaukan para ibu adalah sebagian dari anak-anak itu tidak dapat langsung pulang ke rumah, terutama jika mereka punya kakak di sekolah yang sama yang jam pulangnya berbeda, atau jika mereka ikut jemputan sekolah. Tidak cukup waktu bagi para sopir antar jemput untuk kembali ke sekolah menjemput kelas lain yang pulang lebih siang.

Akibatnya, menunggu adalah hal yang paling mungkin dilakukan oleh anak-anak itu. Menunggu, kalau itu di sekolah, bukanlah masalah bagi mereka. Anak-anak itu dapat bermain lebih lama dengan kawan-kawan mereka. Mereka dapat membeli makanan kesukaan mereka di sekolah alias jajan. Untuk itu, para ibu perlu menyediakan dana ekstra. Yang menurutku lebih merisaukan, meski kurang disadari baik oleh para orang tua maupun pihak sekolah adalah bahwa anak-anak itu bermain tanpa arah dan pengawasan.

Jumlah mata pelajaran tetap banyak, jumlah materi setiap pelajarannya juga banyak, tetapi waktu untuk mempelajarinya berkurang, digantikan dengan bermain tanpa pengawasan dan jajan.

Setelah ada pengumpulan tanda tangan dari para ibu, pihak sekolah mengadakan pertemuan dengan para orang tua. Dari pertemuan itu disepakati ada ‘pengayaan’ bagi murid kelas III. Anakku tidak ada yang di kelas III, jadi aku tidak tahu apa yang mereka kerjakan di kelas pengayaan itu.

Sebetulnya, aku membayangkan mereka akan diperkaya dengan materi pelajaran yang disampaikan dengan cara yang berbeda dan lebih menyenangkan…

Leave a Reply