Archive for October, 2006

Menunggu (3): Jajan dan Jajan Terus…

Friday, October 6th, 2006

Di sekolah anakku, ada pengurangan jumlah jam pelajaran. Hal ini cukup merisaukan para ibu, terutama mereka yang anaknya duduk di kelas III SD. Muris kelas III mendapat pengurangan paling banyak dibandingkan dengan kelas-kelas lain.

Pada awal September lalu, jam pulang sekolah murid kelas III SD berubah cukup signifikan. Tiga hari pertama setiap minggunya, mereka pulang pukul 10.15 dari yang awalnya pukul 12.30, sedangkan tiga hari sisanya, jam pulang menjadi pukul 12.05.

Hal yang merisaukan para ibu adalah sebagian dari anak-anak itu tidak dapat langsung pulang ke rumah, terutama jika mereka punya kakak di sekolah yang sama yang jam pulangnya berbeda, atau jika mereka ikut jemputan sekolah. Tidak cukup waktu bagi para sopir antar jemput untuk kembali ke sekolah menjemput kelas lain yang pulang lebih siang.

Akibatnya, menunggu adalah hal yang paling mungkin dilakukan oleh anak-anak itu. Menunggu, kalau itu di sekolah, bukanlah masalah bagi mereka. Anak-anak itu dapat bermain lebih lama dengan kawan-kawan mereka. Mereka dapat membeli makanan kesukaan mereka di sekolah alias jajan. Untuk itu, para ibu perlu menyediakan dana ekstra. Yang menurutku lebih merisaukan, meski kurang disadari baik oleh para orang tua maupun pihak sekolah adalah bahwa anak-anak itu bermain tanpa arah dan pengawasan.

Jumlah mata pelajaran tetap banyak, jumlah materi setiap pelajarannya juga banyak, tetapi waktu untuk mempelajarinya berkurang, digantikan dengan bermain tanpa pengawasan dan jajan.

Setelah ada pengumpulan tanda tangan dari para ibu, pihak sekolah mengadakan pertemuan dengan para orang tua. Dari pertemuan itu disepakati ada ‘pengayaan’ bagi murid kelas III. Anakku tidak ada yang di kelas III, jadi aku tidak tahu apa yang mereka kerjakan di kelas pengayaan itu.

Sebetulnya, aku membayangkan mereka akan diperkaya dengan materi pelajaran yang disampaikan dengan cara yang berbeda dan lebih menyenangkan…

Menunggu (2): Nyanyian Sopir

Friday, October 6th, 2006

Kegiatan menunggu yang menurut sebagian orang dianggap menyebalkan, membosankan bisa menjadi hal yang menyenangkan jika dijalani dengan senang hati. Itu yang kuperhatikan dari kegiatan para sopir antar jemput di sekolah anak-anakku saat menunggu jam pulang sekolah.

Setiap hari, mereka yang jumlahnya sekitar 15 orang, selalu duduk bergerombol di ‘halte’ sekolah, bertukar cerita, bercanda, dan… bernyanyi. Mereka tidak asal bernyanyi. Mereka bernyanyi dengan riang gembira, sesekali diisi dengan ungkapan-ungkapan canda. Sebagian dari mereka memang berasal dari Tapanuli yang terkenal suka menyanyi, istilah untuk mereka ‘grup Batak’. Dengan modal sebuah gitar, mereka menyanyikan lagu-lagu daerah dengan volume yang cukup keras. Beberapa sopir pribadi ikut nimbrung jika lagunya cocok. Yang hebatnya lagi, mereka bernyanyi bagai kelompok paduan suara. Suara dipecah menjadi sopran, tenor, dan bas. Kalau sudah begitu, rasanya kegiatan menunggu akan selalu menyenangkan bagi para Bapak itu.

Menunggu (1): Perkawanan Lewat Hobi

Friday, October 6th, 2006

Menunggu, menurut sebagian orang membosankan, membuang waktu. Saat menunggu, orang cenderung tidak melakukan apa pun, apalagi jika seorang diri. Misalnya, menunggu di ruang periksa dokter atau di rumah sakit, menunggu di kantor kelurahan, menunggu bis, menunggu anak di sekolah, atau di tempat les…

Dua kegiatan menunggu yang terakhir itu yang setahun terakhir ini sering kulakukan. Hampir setiap hari. Awalnya memang membosankan. Serasa rugi, terbayang ada pekerjaan di rumah yang bisa diselesaikan. Di samping itu, belum banyak ibu yang kukenal.

Kuperhatikan, para ibu yang menunggu anak-anaknya menjalani waktu dengan berbagai kegiatan. Kebanyakan memang hanya mengobrol ngalor-ngidul. Pokok pembicaraan biasanya berkisar tentang anak dengan segala kebiasaannya, cara guru mengajar, pelajaran di sekolah yang menyulitkan anak, informasi tempat bimbingan belajar, atau kejadian-kejadian khusus di sekolah. Kegiatan lain adalah berdagang. Bermacam barang ditawarkan: pakaian, sprei, kue kering buatan sendiri, wadah plastik aneka jenis, sampai kosmetik dan aksesoris khas perempuan. Arisan juga menjadi pilihan kegiatan mengisi waktu menunggu anak, dari yang Rp.5000-an sampai yang satu juta-an tersedia, tinggal pilih asal sesuai kemampuan.

Yang agak beda, ada beberapa ibu yang mengerjakan hobinya di sekolah. Tentu saja hobi yang peralatannya memungkinkan untuk dibawa-bawa. Menyulam dan merenda, dua jenis hobi yang biasa dikerjakan disela waktu menunggu. Dari kegiatan ini, para ibu yang punya hobi sama atau yang tertarik untuk belajar bisa saling bertukar cerita atau informasi seputar hobi kewanitaan lainnya, seperti bertukar resep masakan, atau teknik-teknik pengerjaan yang belum dimiliki. Lebih jauh lagi, mereka saling berkunjung untuk melihat hasil karya, belajar teknik pengerjaan secara langsung, atau belajar mengerjakan jenis hobi lainnya, semisal pathcwork, memasang payet, menjahit, dan sebagainya. Beberapa ajakan untuk pergi ke toko atau pasar yang menjual peralatan hobi, bahan masakan tertentu, atau menjual kain-kain murah sudah ada, tinggal mencari waktu yang tepat untuk melaksanakannya.

Dari hobi, mereka juga mendapat tambahan pemasukan. Jika ada ibu yang malas membuat sendiri, dia bisa memesan untuk dibuatkan. Bahan bisa dari pemesan, tetapi juga bisa sistem borongan.

Berkawan lewat hobi yang didapat dari aktivitas menunggu anak di sekolah cukup menyenangkan. Dengan begitu, kegiatan menunggu jadi lebih meringankan.