Tak Berjudul
Tubuh tuanya membungkuk, memunguti tas kresek hitam juga putih, bergambar, bertuliskan nama toko, bungkus shampoo, sabun mandi, bumbu masak, dedaunan kering, pelepah pisang dan kelapa, dan segala jenis maupun bentuk barang buangan lainnya. Kadang juga sobekan kain bekas sarung, serbet, mungkin juga celana dalam…Dikumpulkannya segala benda itu di dekat bak dari batu bata yang dulunya persegi, tapi karena dimakan usia, bukan lagi persegi, sudah pecah di bagian depannya dan menghitam.
Sisa dedaunan atau barang buangan yang kecil-kecil, tak terjangkau waktu dan tenaganya kalau dipungutinya satu persatu, disapunya dengan sapu lidi yang panjangnya tinggal separuh dari ketika baru. Hasil sapuannya dikumpulkan bersama hasil pungutannya, ditumpuk membentuk gunungan kecil, lalu dibakarnya. Dia berjongkok di dekat bakaran sampahnya, layaknya menunggui ubi bakar untuk sarapannya. Sepotong ranting pohon digunakannya untuk membalik, menyogok, merapikan, dan mempertahankan nyala api bakarannya.
Tidak ada orang peduli. Orang lewat tanpa menyapa. Dia juga hanya diam sambil meneruskan kerjanya. Sebagian plastik ditanamnya membentuk bukit setinggi setengah meter, selebar kira-kira dua meter persegi, di atasnya ditanami pisang. Pekerjaan itu, katanya, sudah dijalaninya selama delapan belas tahun. Tidak heran, lahan dua meter persegi itu sudah rimbun dengan pepohonan pisang, juga pohon kelapa, serta jambu air di ‘bukit’ lainnya. Tidak peduli atau tidak tahu bahwa pisang atau jambunya akan tercemar logam berat karena ditanam dengan ‘pupuk’ plastik bungkus shampoo.
Kebunnya dibatasi tembok memanjang sebagai pembeda RT. Rumah-rumah di balik tembok dengan enaknya membuang sampah melewati tembok, jatuh di antara pohon-pohon pisangnya atau di sembarang tempat lainnya, jauh dari bak penampung jelek itu. Meskipun, kebanyakan masih takut dan sembunyi-sembunyi membuang sampah, tapi ada juga yang terus terang. Plung! Belakangan kuketahui, dia kadang memungut ‘pajak’ dari rumah-rumah itu.
Kadang lama dia tidak kelihatan, tidak sibuk di kebunnya. Rupanya pulang menengok anak perempuannya di mBojong, Wates. Atau pernah juga, karena kematian kakaknya. Barang buangan alias sampah yang bau dan bikin sepet pemandangan berserakan di kebunnya akibat ulah orang-orang di balik tembok. Ulah orang kompleks tepatnya para PRT-nya, juga membuat semakin bertumpuknya sampah. Dibungkus ‘kresek’ hitam ditaruh begitu saja di bawah pohon kelapa, malas mendekatkannya ke bak penampungan, karena bau, agak becek, juga jelek. Lebih parah lagi, pemulung yang datang, seperti juga kucing-kucing liar di sekitar kompleks, mencabik-cabik kresek isi sampah untuk mencari dan mengambil yang masih bermanfaat. Kresek kosong beterbangan kena angin, jatuh di selokan yang airnya hitam pekat malas mengalir untuk menemani dedaunan yang sudah menumpuk di sana. menambah berat aliran airnya.
Tinggalah aku merana memandangi bagian depan rumahku yang kumuh.
Sebulan terakhir lelaki tua itu sering sekali tidak kelihatan. Suatu hari dia ‘melapor’ bahwa dia sakit, tidak kuat bekerja. Tekanan darah rendah, ditambah sakit gigi. Tidak ada uang, untuk ke dokter, juga untuk makan. Tubuhnya semakin ‘tipis’. Menantu lelakinya yang tinggal bersamanya tidak peduli, bahkan hanya untuk segelas teh manis. Dia minta air ke rumah untuk minum, hanya air putih. Cangkirku sampai sekarang belum kembali.
Jumat Kliwon, 15 September 2006, jam empat sore, ada orang datang memberi tahu: "Pak Man sampun mboten wonten." Padahal paginya, baru kusuruh pembantuku mencarikan vitamin di apotik dekat sekolah yang ternyata habis. Terlambat. Dia sudah meninggal. Tidak ada lagi orang peduli pada sampah di depan rumahku, seperti juga hidup dan kematiannya, tidak ada yang memedulikan.