Archive for September, 2006

Pak Man dan Taman

Tuesday, September 19th, 2006

Pak Man, aku tidak tahu nama lengkapnya, adalah ‘pengurus’ lahan kompleks di depan rumahku.

Delapan belas tahun yang lalu dia diminta oleh sebuah keluarga yang tinggalnya di sebelah rumahku, untuk mengurusi lahan kosong milik kompleks kejaksaan. Awalnya dia memang hanya mengurusi tanah. Ditanaminya tanah itu dengan kelapa, juga rumput. Ada pula beberapa pohon besar, tapi aku kurang tahu siapa penanamnya.

Kalau dilihat-lihat, lumayan juga kalau di depan rumah ada ‘taman’ dengan pohon-pohon besar dengan hamparan rumput di bawahnya. Tapi itu bertahun-tahun yang lalu. Yang kunikmati sekarang bukan lagi semacam itu. Memang, pepohonan masih ada, juga pohon pisang yang ditanam pak Man sudah puluhan jumlahnya dan tinggi besar pula. Belum lagi perdu-perdu jambu air yang mungkin ada dua puluhan jumlahnya. Juga masih ada jenis pohon lain seperti bambu, cincau, palem, teh-tehan. Akan tetapi, kesegaran alamnya sudah tidak bisa lagi dirasakan.

Kalau musim hujan, daerah itu masih tampak hijau, karena rumputnya kecukupan air. Tapi hujan deras 10 menit saja sudah sanggup membuat taman dan jalan di depan rumahku tenggelam setinggi lutut anak-anak.

Selain itu, ada pemandangan lain, yaitu bak sampah jelek yang isinya luber kemana-mana, radiusnya bisa mencapai dua puluh sampai tiga puluh langkah dari pusat penampung itu. Lubernya memang disengaja, karena orang membuang sampahnya langsung lempar saja, terserah jatuhnya si bungkusan sampah itu, terserah kemana angin membawanya. Mau jatuh di bawah pohon pisang, oke, jatuh di bawah pohon bambu juga oke, atau bahkan di selokan pun, tak peduli. Bayangkan kalau banjir, sampah yang berserakan itu terapung-apung dan terbawa air, kemudian menempel di pagar-pagar rumah atau bisa juga masuk rumah. Menjijikkan.

Lahan pak Man dibatasi oleh tembok setinggi dua tiga meteran, memanjang sepanjang jumlah rumah yang ada, dan berhenti di batas jalan kecil atau gang yang membatasi deretan rumah di blok lain. Jangan bayangkan tembok itu putih bersih. Pembatas ini sama jeleknya dengan bak penampung sampah. Ada lobang berbentuk kotak sebesar jendela kecil yang nampaknya berfungsi sebagai ventilasi rumah orang di baliknya, ada ‘tambalan’ batako di atas bekas hancuran tembok yang tadinya mungkin akan dijadikan pintu secara sembunyi-sembunyi, tapi keburu ketahuan. Pendeknya, sebagai pembatas, tembok ini meragukan. Sewaktu-waktu tembok ini bisa roboh oleh ulah orang-orang di baliknya.

Di balik tembok itu tinggal sekelompok produsen tempe yang membuang limbahnya ke ‘taman’ pak Man alias ke kompleks perumahan tempatku tinggal. Oleh pak Man, supaya pembuangan lancar, dibuatkan gorong-gorong kecil menuju selokan. Karena dibuat ‘ecek-ecek’, limbah tempe itu luber juga dan menebarkan aroma ‘harum’nya. Orang-orang di sekitar, baik yang tinggal di kompleks perumahan maupun yang di pemukiman padat di balik tembok tampak tak peduli. Waktu pertama kali datang sampai beberapa minggu sesudahnya, aku masih bisa mencium aroma limbah tempe itu, tapi setelah itu aromanya sudah tak tercium lagi, seolah sudah menyatu dengan hidungku. Mengagumkan juga daya adaptasiku. Anak-anakku heran mengetahui aku sudah tidak bisa lagi mencium aroma busuk itu.

Kabarnya pak Man menarik upeti dari orang-orang di balik tembok. Pernah suatu kali, lubernya limbah tempe sampai memenuhi sebagian besar lahan pak Man. Warnanya putih susu kekuningan. Baunya tertinggal beberapa hari di lingkunganku. Mungkin ada protes atau atas kesadaran warga pembuang limbah, akhirnya, entah oleh siapa, dibuatlah gorong-gorong yang lebih mapan, sehingga limbah tempe bisa mengalir dan jatuh tepat di atas selokan, tanpa mampir dulu di rerumputan taman. Lumayan, tidak ada lagi bau ‘harum’ itu. Asal tahu saja, aku tidak pernah beli tempe langsung ke produsen itu. Nanti mereka besar kepala merasa aku memaklumi tindakan mereka membuang limbahnya sembarangan.

Setelah pak Man meninggal, orang yang menunggu hasil kebunnya yang berupa kelapa, pisang, juga jambu air, sudah pada antri, bahkan sebelum dia meninggal pun mereka sudah pada rerasan. Anehnya tidak ada orang yang antri untuk mengurus sampah yang merupakan sampah mereka sendiri.

Tak Berjudul

Tuesday, September 19th, 2006

Tubuh tuanya membungkuk, memunguti tas kresek hitam juga putih, bergambar, bertuliskan nama toko, bungkus shampoo, sabun mandi, bumbu masak, dedaunan kering, pelepah pisang dan kelapa, dan segala jenis maupun bentuk barang buangan lainnya. Kadang juga sobekan kain bekas sarung, serbet, mungkin juga celana dalam…Dikumpulkannya segala benda itu di dekat bak dari batu bata yang dulunya persegi, tapi karena dimakan usia, bukan lagi persegi, sudah pecah di bagian depannya dan menghitam.

Sisa dedaunan atau barang buangan yang kecil-kecil, tak terjangkau waktu dan tenaganya kalau dipungutinya satu persatu, disapunya dengan sapu lidi yang  panjangnya tinggal separuh dari ketika baru. Hasil sapuannya dikumpulkan bersama hasil pungutannya, ditumpuk membentuk gunungan kecil, lalu dibakarnya. Dia berjongkok di dekat bakaran sampahnya, layaknya menunggui ubi bakar untuk sarapannya. Sepotong ranting pohon digunakannya untuk membalik, menyogok, merapikan, dan mempertahankan nyala api bakarannya.

Tidak ada orang peduli. Orang lewat tanpa menyapa. Dia juga hanya diam sambil meneruskan kerjanya. Sebagian plastik ditanamnya membentuk bukit setinggi setengah meter, selebar kira-kira dua meter persegi, di atasnya ditanami pisang. Pekerjaan itu, katanya, sudah dijalaninya selama delapan belas tahun. Tidak heran, lahan dua meter persegi itu sudah rimbun dengan pepohonan pisang, juga pohon kelapa, serta jambu air di ‘bukit’ lainnya. Tidak peduli atau tidak tahu bahwa pisang atau jambunya akan tercemar logam berat karena ditanam dengan ‘pupuk’ plastik bungkus shampoo.

Kebunnya dibatasi tembok memanjang sebagai pembeda RT. Rumah-rumah di balik tembok dengan enaknya membuang sampah melewati tembok, jatuh di antara pohon-pohon pisangnya atau di sembarang tempat lainnya, jauh dari bak penampung jelek itu. Meskipun, kebanyakan masih takut dan sembunyi-sembunyi membuang sampah, tapi ada juga yang terus terang. Plung! Belakangan kuketahui, dia kadang memungut ‘pajak’ dari rumah-rumah itu.

Kadang lama dia tidak kelihatan, tidak sibuk di kebunnya. Rupanya pulang menengok anak perempuannya di mBojong, Wates. Atau pernah juga, karena kematian kakaknya. Barang buangan alias sampah yang bau dan bikin sepet pemandangan berserakan di kebunnya akibat ulah orang-orang di balik tembok. Ulah orang kompleks tepatnya para PRT-nya, juga membuat semakin bertumpuknya sampah. Dibungkus ‘kresek’ hitam ditaruh begitu saja di bawah pohon kelapa, malas mendekatkannya ke bak penampungan, karena bau, agak becek, juga jelek. Lebih parah lagi, pemulung yang datang, seperti juga kucing-kucing liar di sekitar kompleks, mencabik-cabik kresek isi sampah untuk mencari dan mengambil yang masih bermanfaat. Kresek kosong beterbangan kena angin, jatuh di selokan yang airnya hitam pekat malas mengalir untuk menemani dedaunan yang sudah menumpuk di sana. menambah berat aliran airnya.

Tinggalah aku merana memandangi bagian depan rumahku yang kumuh.

Sebulan terakhir lelaki tua itu sering sekali tidak kelihatan. Suatu hari dia ‘melapor’ bahwa dia sakit, tidak kuat bekerja. Tekanan darah rendah, ditambah sakit gigi. Tidak ada uang, untuk ke dokter, juga untuk makan. Tubuhnya semakin ‘tipis’. Menantu lelakinya yang tinggal bersamanya tidak peduli, bahkan hanya untuk segelas teh manis. Dia minta air ke rumah untuk minum, hanya air putih. Cangkirku sampai sekarang belum kembali.

Jumat Kliwon, 15 September 2006, jam empat sore, ada orang datang memberi tahu: "Pak Man sampun mboten wonten." Padahal paginya, baru kusuruh pembantuku mencarikan vitamin di apotik dekat sekolah yang ternyata habis. Terlambat. Dia sudah meninggal. Tidak ada lagi orang peduli pada sampah di depan rumahku, seperti juga hidup dan kematiannya, tidak ada yang memedulikan.