Jajanan Anak Sekolah
Thursday, December 1st, 2005Gara-gara menunggui anak sekolah membuatku akrab dengan kantin sekolah. Entah hanya untuk menikmati soto mie atau minum teh manis hangat bersama para ibu sesama penunggu dan penjemput, yang jelas, aku sudah menjadi pengamat kantin yang, tentunya, amatiran.
Kantin ini letaknya di bagian belakang sekolah. Lokasi ini hanya sementara sebelum dipindahkan ke basement. Yang dijual di kantin ini beragam, dari makanan sampai mainan. Makanan pun beragam, dari makanan angkringan: soto mie, mie ayam, burger dan hotdog, kupat tahu, lontong sayur, batagor, sampai makanan kemasan baik yang bermerek terkenal maupun yang tidak. Demikian juga minuman.
Kantin menjadi harapan bagi para murid. Jarak rumah-sekolah yang jauh membuat anak-anak harus berangkat lebih pagi, sehingga membuat mereka tidak sempat sarapan. Kantinlah harapan mereka agar tidak kelaparan saat menerima pelajaran. Kantin sekolah ini melayani murid yang jumlahnya sekitar 1500-an itu minimal dua kali sehari: pada jam istirahat pertama dan kedua.
Kantin juga menjadi harapan para ibu untuk menikmati sarapan dengan tenang setelah terburu-buru menyiapkan anak berangkat sekolah. Jam pulang sekolah anak yang tidak terjangkau jika harus pergi-pulang, membuat mereka menunggu di sekolah. Kantin juga menjadi penyedia makan siang anak, karena jelas para ibu itu tidak sempat lagi masak kalau harus berada di sekolah sepanjang siang.
Ketergantungan terhadap kantin yang begitu besar serta kebiasaan jajan yang sudah terbentuk, membuatku khawatir akan kesehatan anak-anak itu di masa depan. MSG yang ditaburkan ke dalam mangkok soto atau mie ayam, saos tomat dan sambal yang dituangkan di atas roti burger dari botol minuman plastik yang penyok karena panas, minyak yang sudah berulang kali dipakai untuk menggoreng batagor, atau minuman kemasan yang warnanya ‘menor’, apa jadinya jika dikonsumsi setiap hari. Terlebih lagi jika anak-anak tidak puas dengan jajanan kantin, mereka akan berlari ke luar halaman sekolah, yang sebetulnya dilarang, untuk membeli makanan yang lebih seram baik kemasan maupun kandungannya.
Kekhawatiranku terbukti dengan dimuatnya penelitian tentang jajanan sekolah beberapa waktu lalu di harian Kompas. Ternyata betul dugaanku bahwa banyak jajanan sekolah yang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan. Tulisan itu setidaknya dapat mendorong para ibu untuk sedikit bekerja keras mempersiapkan sarapan dan bekal anak dari rumah, serta mengawasi pembelanjaan uang jajan mereka. dari hasil ‘wawancaraku’ dengan anak-anakku, sedikitnya murid SD membawa uang lima ribu rupiah sehari untuk jajan, yang SMP tentu lebih banyak lagi. Hasil penelitian itu juga dapat membuka pikiran anak-anakku mengapa aku agak ‘pelit’ soal uang jajan. (anakku yang paling besar sering memrotesku perkara itu, karena aku hampir tidak pernah memberinya uang jajan ekstra. Dia hanya menerima uang bulanan yang menurutnya tidak cukup untuk jajan tambahan.)