PINDAH (2): Jogja-Jakarta
Pindah, seperti yang sudah kunyatakan, adalah hal yang bisa dan biasa dialami setiap orang. Yang membuatnya menjadi tidak biasa adalah ketika kutemukan bahwa aku sudah terikat dengan tempatku yang lama: Jogjakarta.
Di Jogja aku jarang bermasalah dengan waktu, jarak tempuh. Artinya, di Jogja aku hampir tidak pernah kena macet di jalan yang menyebabkan acaraku kacau. Paling-paling ‘kebanan’ (kalau ini terjadi di Jakarta, penderitaan segera dimulai!).
Sekarang aku tinggal di Jakarta. Dari waktu bangun pagi, waktu berangkat sekolah, sampai waktu menjemput anak harus dipersiapkan betul-betul. Setelah sekian minggu, kupelajari, terlambat lima menit saja berangkat sekolah, anakku akan terlambat masuk. Kalau terlambat, pintu gerbang sudah dikunci. Kalau pun berhasil masuk, maka sanksi sudah menanti. Karenanya, setiap pagi aku menjadi ibu yang cerewet, mengingatkan untuk mandi, untuk jadwal seragam yang dipakai (jadwal tidak sama untuk setiap anak), untuk sarapan, untuk tidak lupa membawa bekal (sekolah mereka mewajibkan murid untuk membawa bekal sendiri), dan lain-lain. Sibuknya melebihi ibu-ibu yang bekerja!
Di Jogja, sekali pun aku juga melakukan hal sama untuk anak-anakku, tapi aku tidak perlu tegang, takut mereka terlambat. Jakarta telah mengubahku jadi ibu cerewet!Wah!
Semoga, di bulan-bulan depan, ketegangan dan kecerewetanku berkurang atau malah menghilang. Apakah itu artinya aku jadi tidak peduli lagi atau memang sudah bisa mengatasi masalah? Itulah yang belum kuketahui.