Archive for August, 2005

Belajar dari Anak (3): Ibu yang Biasanya

Monday, August 8th, 2005

Situasi dan tempat yang baru membuatku sedikit tegang, sehingga aku jadi lebih banyak cerewet kepada anak-anakku. Kecerewetanku muncul terutama jika mereka harus selalu terus-menerus diingatkan untuk apa yang seharusnya sudah rutin mereka lakukan, seperti menjadwal pelajaran untuk besok pagi, memakai sepatu, menyiapkan perlengkapan sekolah, dan lain-lain. Hal itu terutama terjadi pada anak laki-lakiku, Garda.

Hal-hal yang lucu sering terjadi pada Garda. Spontanitasnya yang tinggi dan sering tidak fokusnya dia pada hal yang dikerjakannya, maka sering terjadi, misalnya kaus kaki yang seharusnya dipakai di dua kaki, dipakainya di satu kaki, lalu dia akan kebingungan mencari kaus kaki yang satu. Lalu kami akan sibuk membantu mencarikan. Dan kejadian lain yang tak kalah lucu, sekaligus menjengkelkan.

Karena rasa bersalah, maka pada suatu malam, sebelum tidur, kuceritakan padanya keinginanku, bahwa aku ingin menjadi tidak cerewet, tidak perlu selalu mengingatkan dia. Aku ingin dia sudah tahu apa yang seharusnya dia lakukan. Jadi, aku cukup diam saja.

Kejutan yang kuterima adalah ketika dia menjawab, "Aku nggak suka ibu diam saja. Aku suka ibu marah, ngingetin aku, karena itu ibu yang biasanya. Kalau ibu diam saja, aku malah jadi takut."

Entah dia menerimaku apa adanya atau dia menganggap kecerewetanku sudah tidak berkhasiat lagi, aku tidak tahu. Setidaknya, dia tahu keinginanku.

PINDAH (2): Jogja-Jakarta

Monday, August 8th, 2005

Pindah, seperti yang sudah kunyatakan, adalah hal yang bisa dan biasa dialami setiap orang. Yang membuatnya menjadi tidak biasa adalah ketika kutemukan bahwa aku sudah terikat dengan tempatku yang lama: Jogjakarta.

Di Jogja aku jarang bermasalah dengan waktu, jarak tempuh. Artinya, di Jogja aku hampir tidak pernah kena macet di jalan yang menyebabkan acaraku kacau. Paling-paling ‘kebanan’ (kalau ini terjadi di Jakarta, penderitaan segera dimulai!).

Sekarang aku tinggal di Jakarta. Dari waktu bangun pagi, waktu berangkat sekolah, sampai waktu menjemput anak harus dipersiapkan betul-betul. Setelah sekian minggu, kupelajari, terlambat lima menit saja berangkat sekolah, anakku akan terlambat masuk. Kalau terlambat, pintu gerbang sudah dikunci. Kalau pun berhasil masuk, maka sanksi sudah menanti. Karenanya, setiap pagi aku menjadi ibu yang cerewet, mengingatkan untuk mandi, untuk jadwal seragam yang dipakai (jadwal tidak sama untuk setiap anak), untuk sarapan, untuk tidak lupa membawa bekal (sekolah mereka mewajibkan murid untuk membawa bekal sendiri), dan lain-lain. Sibuknya melebihi ibu-ibu yang bekerja!

Di Jogja, sekali pun aku juga melakukan hal sama untuk anak-anakku, tapi aku tidak perlu tegang, takut mereka terlambat. Jakarta telah mengubahku jadi ibu cerewet!Wah!

Semoga, di bulan-bulan depan, ketegangan dan kecerewetanku berkurang atau malah menghilang. Apakah itu artinya aku jadi tidak peduli lagi atau memang sudah bisa mengatasi masalah? Itulah yang belum kuketahui.

PINDAH (1):Penyesuaian Diri

Monday, August 8th, 2005

Pindah. Itu aktivitas yang bisa dan biasa dialami setiap orang. Yang sering menjadikannya tidak biasa adalah ketika orang sudah sangat terikat pada tempat yang lama. Bukan hanya tempat, tapi juga benda, manusia-manusia yang ada di tempat lama itu. Itulah yang kami alami.

Kami sekeluarga pindah rumah, pindah kota. Hal yang sudah dibicarakan, dipersiapkan beberapa bulan sebelumnya. Meski demikian, tetap saja hal itu menyisakan masalah: penyesuaian diri.

Anakku yang sulung, remaja kelas 8, hingga hari ini, setelah tiga minggu berada di tempat baru masih tampak tidak gembira. Ada saja keluhannya: air yang tidak sesuai dengan rambutnya, jerawat yang muncul di wajah, teman-teman yang terlalu serius, guru-guru yang membosankan, sekolah yang terlalu banyak aturan, pelajaran yang semakin sulit…

Keterikatannya dengan ‘peer group’-nya di kota yang lama memang wajar, juga kecenderungannya dalam memperhatikan penampilan, kemalasannya belajar. Semua khas remaja. Jadi kupikir tidak perlu khawatir berlebihan, mudah-mudahan dia cepat menemukan semangatnya kembali. Kami orang tuanya berusaha mengamati perubahan yang terjadi pada dirinya. Sejauh masih normal, rasanya, kami, terutama aku, tidak perlu resah.