Belajar dari Anak (3): Ibu yang Biasanya
Monday, August 8th, 2005Situasi dan tempat yang baru membuatku sedikit tegang, sehingga aku jadi lebih banyak cerewet kepada anak-anakku. Kecerewetanku muncul terutama jika mereka harus selalu terus-menerus diingatkan untuk apa yang seharusnya sudah rutin mereka lakukan, seperti menjadwal pelajaran untuk besok pagi, memakai sepatu, menyiapkan perlengkapan sekolah, dan lain-lain. Hal itu terutama terjadi pada anak laki-lakiku, Garda.
Hal-hal yang lucu sering terjadi pada Garda. Spontanitasnya yang tinggi dan sering tidak fokusnya dia pada hal yang dikerjakannya, maka sering terjadi, misalnya kaus kaki yang seharusnya dipakai di dua kaki, dipakainya di satu kaki, lalu dia akan kebingungan mencari kaus kaki yang satu. Lalu kami akan sibuk membantu mencarikan. Dan kejadian lain yang tak kalah lucu, sekaligus menjengkelkan.
Karena rasa bersalah, maka pada suatu malam, sebelum tidur, kuceritakan padanya keinginanku, bahwa aku ingin menjadi tidak cerewet, tidak perlu selalu mengingatkan dia. Aku ingin dia sudah tahu apa yang seharusnya dia lakukan. Jadi, aku cukup diam saja.
Kejutan yang kuterima adalah ketika dia menjawab, "Aku nggak suka ibu diam saja. Aku suka ibu marah, ngingetin aku, karena itu ibu yang biasanya. Kalau ibu diam saja, aku malah jadi takut."
Entah dia menerimaku apa adanya atau dia menganggap kecerewetanku sudah tidak berkhasiat lagi, aku tidak tahu. Setidaknya, dia tahu keinginanku.