Belajar dari Anak (1): Mengakui keburukan
Sunday, May 22nd, 2005Garda, anakku (8) suatu hari bertanya, “Bu, mengakui keburukan itu membutuhkan keberanian ya?”
Pertanyaannya itu berdasar pada peristiwa di kelas, ketika temannya sekelas ditanyai oleh ibu gurunya perihal makan di tempat tidur. Salah seorang kawannya tunjuk jari dan mengakui kalau dirinya masih suka makan di tempat tidur. Garda menangkap hal itu sebagai keberanian, “Itu kan namanya berani ya Bu?”
Mengakui keburukan adalah sulit. Apalagi pada orang dewasa. Butuh keberanian, memang.
Aku bersyukur Garda sudah menyadarinya sejak dini. Semoga dia bisa dengan berani mengakui, menerima segala kekurangannya, dan dengan berani pula memperbaikinya, sejak dini.