Menunggu (3): Jajan dan Jajan Terus…

October 6th, 2006 by andanya

Di sekolah anakku, ada pengurangan jumlah jam pelajaran. Hal ini cukup merisaukan para ibu, terutama mereka yang anaknya duduk di kelas III SD. Muris kelas III mendapat pengurangan paling banyak dibandingkan dengan kelas-kelas lain.

Pada awal September lalu, jam pulang sekolah murid kelas III SD berubah cukup signifikan. Tiga hari pertama setiap minggunya, mereka pulang pukul 10.15 dari yang awalnya pukul 12.30, sedangkan tiga hari sisanya, jam pulang menjadi pukul 12.05.

Hal yang merisaukan para ibu adalah sebagian dari anak-anak itu tidak dapat langsung pulang ke rumah, terutama jika mereka punya kakak di sekolah yang sama yang jam pulangnya berbeda, atau jika mereka ikut jemputan sekolah. Tidak cukup waktu bagi para sopir antar jemput untuk kembali ke sekolah menjemput kelas lain yang pulang lebih siang.

Akibatnya, menunggu adalah hal yang paling mungkin dilakukan oleh anak-anak itu. Menunggu, kalau itu di sekolah, bukanlah masalah bagi mereka. Anak-anak itu dapat bermain lebih lama dengan kawan-kawan mereka. Mereka dapat membeli makanan kesukaan mereka di sekolah alias jajan. Untuk itu, para ibu perlu menyediakan dana ekstra. Yang menurutku lebih merisaukan, meski kurang disadari baik oleh para orang tua maupun pihak sekolah adalah bahwa anak-anak itu bermain tanpa arah dan pengawasan.

Jumlah mata pelajaran tetap banyak, jumlah materi setiap pelajarannya juga banyak, tetapi waktu untuk mempelajarinya berkurang, digantikan dengan bermain tanpa pengawasan dan jajan.

Setelah ada pengumpulan tanda tangan dari para ibu, pihak sekolah mengadakan pertemuan dengan para orang tua. Dari pertemuan itu disepakati ada ‘pengayaan’ bagi murid kelas III. Anakku tidak ada yang di kelas III, jadi aku tidak tahu apa yang mereka kerjakan di kelas pengayaan itu.

Sebetulnya, aku membayangkan mereka akan diperkaya dengan materi pelajaran yang disampaikan dengan cara yang berbeda dan lebih menyenangkan…

Menunggu (2): Nyanyian Sopir

October 6th, 2006 by andanya

Kegiatan menunggu yang menurut sebagian orang dianggap menyebalkan, membosankan bisa menjadi hal yang menyenangkan jika dijalani dengan senang hati. Itu yang kuperhatikan dari kegiatan para sopir antar jemput di sekolah anak-anakku saat menunggu jam pulang sekolah.

Setiap hari, mereka yang jumlahnya sekitar 15 orang, selalu duduk bergerombol di ‘halte’ sekolah, bertukar cerita, bercanda, dan… bernyanyi. Mereka tidak asal bernyanyi. Mereka bernyanyi dengan riang gembira, sesekali diisi dengan ungkapan-ungkapan canda. Sebagian dari mereka memang berasal dari Tapanuli yang terkenal suka menyanyi, istilah untuk mereka ‘grup Batak’. Dengan modal sebuah gitar, mereka menyanyikan lagu-lagu daerah dengan volume yang cukup keras. Beberapa sopir pribadi ikut nimbrung jika lagunya cocok. Yang hebatnya lagi, mereka bernyanyi bagai kelompok paduan suara. Suara dipecah menjadi sopran, tenor, dan bas. Kalau sudah begitu, rasanya kegiatan menunggu akan selalu menyenangkan bagi para Bapak itu.

Menunggu (1): Perkawanan Lewat Hobi

October 6th, 2006 by andanya

Menunggu, menurut sebagian orang membosankan, membuang waktu. Saat menunggu, orang cenderung tidak melakukan apa pun, apalagi jika seorang diri. Misalnya, menunggu di ruang periksa dokter atau di rumah sakit, menunggu di kantor kelurahan, menunggu bis, menunggu anak di sekolah, atau di tempat les…

Dua kegiatan menunggu yang terakhir itu yang setahun terakhir ini sering kulakukan. Hampir setiap hari. Awalnya memang membosankan. Serasa rugi, terbayang ada pekerjaan di rumah yang bisa diselesaikan. Di samping itu, belum banyak ibu yang kukenal.

Kuperhatikan, para ibu yang menunggu anak-anaknya menjalani waktu dengan berbagai kegiatan. Kebanyakan memang hanya mengobrol ngalor-ngidul. Pokok pembicaraan biasanya berkisar tentang anak dengan segala kebiasaannya, cara guru mengajar, pelajaran di sekolah yang menyulitkan anak, informasi tempat bimbingan belajar, atau kejadian-kejadian khusus di sekolah. Kegiatan lain adalah berdagang. Bermacam barang ditawarkan: pakaian, sprei, kue kering buatan sendiri, wadah plastik aneka jenis, sampai kosmetik dan aksesoris khas perempuan. Arisan juga menjadi pilihan kegiatan mengisi waktu menunggu anak, dari yang Rp.5000-an sampai yang satu juta-an tersedia, tinggal pilih asal sesuai kemampuan.

Yang agak beda, ada beberapa ibu yang mengerjakan hobinya di sekolah. Tentu saja hobi yang peralatannya memungkinkan untuk dibawa-bawa. Menyulam dan merenda, dua jenis hobi yang biasa dikerjakan disela waktu menunggu. Dari kegiatan ini, para ibu yang punya hobi sama atau yang tertarik untuk belajar bisa saling bertukar cerita atau informasi seputar hobi kewanitaan lainnya, seperti bertukar resep masakan, atau teknik-teknik pengerjaan yang belum dimiliki. Lebih jauh lagi, mereka saling berkunjung untuk melihat hasil karya, belajar teknik pengerjaan secara langsung, atau belajar mengerjakan jenis hobi lainnya, semisal pathcwork, memasang payet, menjahit, dan sebagainya. Beberapa ajakan untuk pergi ke toko atau pasar yang menjual peralatan hobi, bahan masakan tertentu, atau menjual kain-kain murah sudah ada, tinggal mencari waktu yang tepat untuk melaksanakannya.

Dari hobi, mereka juga mendapat tambahan pemasukan. Jika ada ibu yang malas membuat sendiri, dia bisa memesan untuk dibuatkan. Bahan bisa dari pemesan, tetapi juga bisa sistem borongan.

Berkawan lewat hobi yang didapat dari aktivitas menunggu anak di sekolah cukup menyenangkan. Dengan begitu, kegiatan menunggu jadi lebih meringankan.

Pak Man dan Taman

September 19th, 2006 by andanya

Pak Man, aku tidak tahu nama lengkapnya, adalah ‘pengurus’ lahan kompleks di depan rumahku.

Delapan belas tahun yang lalu dia diminta oleh sebuah keluarga yang tinggalnya di sebelah rumahku, untuk mengurusi lahan kosong milik kompleks kejaksaan. Awalnya dia memang hanya mengurusi tanah. Ditanaminya tanah itu dengan kelapa, juga rumput. Ada pula beberapa pohon besar, tapi aku kurang tahu siapa penanamnya.

Kalau dilihat-lihat, lumayan juga kalau di depan rumah ada ‘taman’ dengan pohon-pohon besar dengan hamparan rumput di bawahnya. Tapi itu bertahun-tahun yang lalu. Yang kunikmati sekarang bukan lagi semacam itu. Memang, pepohonan masih ada, juga pohon pisang yang ditanam pak Man sudah puluhan jumlahnya dan tinggi besar pula. Belum lagi perdu-perdu jambu air yang mungkin ada dua puluhan jumlahnya. Juga masih ada jenis pohon lain seperti bambu, cincau, palem, teh-tehan. Akan tetapi, kesegaran alamnya sudah tidak bisa lagi dirasakan.

Kalau musim hujan, daerah itu masih tampak hijau, karena rumputnya kecukupan air. Tapi hujan deras 10 menit saja sudah sanggup membuat taman dan jalan di depan rumahku tenggelam setinggi lutut anak-anak.

Selain itu, ada pemandangan lain, yaitu bak sampah jelek yang isinya luber kemana-mana, radiusnya bisa mencapai dua puluh sampai tiga puluh langkah dari pusat penampung itu. Lubernya memang disengaja, karena orang membuang sampahnya langsung lempar saja, terserah jatuhnya si bungkusan sampah itu, terserah kemana angin membawanya. Mau jatuh di bawah pohon pisang, oke, jatuh di bawah pohon bambu juga oke, atau bahkan di selokan pun, tak peduli. Bayangkan kalau banjir, sampah yang berserakan itu terapung-apung dan terbawa air, kemudian menempel di pagar-pagar rumah atau bisa juga masuk rumah. Menjijikkan.

Lahan pak Man dibatasi oleh tembok setinggi dua tiga meteran, memanjang sepanjang jumlah rumah yang ada, dan berhenti di batas jalan kecil atau gang yang membatasi deretan rumah di blok lain. Jangan bayangkan tembok itu putih bersih. Pembatas ini sama jeleknya dengan bak penampung sampah. Ada lobang berbentuk kotak sebesar jendela kecil yang nampaknya berfungsi sebagai ventilasi rumah orang di baliknya, ada ‘tambalan’ batako di atas bekas hancuran tembok yang tadinya mungkin akan dijadikan pintu secara sembunyi-sembunyi, tapi keburu ketahuan. Pendeknya, sebagai pembatas, tembok ini meragukan. Sewaktu-waktu tembok ini bisa roboh oleh ulah orang-orang di baliknya.

Di balik tembok itu tinggal sekelompok produsen tempe yang membuang limbahnya ke ‘taman’ pak Man alias ke kompleks perumahan tempatku tinggal. Oleh pak Man, supaya pembuangan lancar, dibuatkan gorong-gorong kecil menuju selokan. Karena dibuat ‘ecek-ecek’, limbah tempe itu luber juga dan menebarkan aroma ‘harum’nya. Orang-orang di sekitar, baik yang tinggal di kompleks perumahan maupun yang di pemukiman padat di balik tembok tampak tak peduli. Waktu pertama kali datang sampai beberapa minggu sesudahnya, aku masih bisa mencium aroma limbah tempe itu, tapi setelah itu aromanya sudah tak tercium lagi, seolah sudah menyatu dengan hidungku. Mengagumkan juga daya adaptasiku. Anak-anakku heran mengetahui aku sudah tidak bisa lagi mencium aroma busuk itu.

Kabarnya pak Man menarik upeti dari orang-orang di balik tembok. Pernah suatu kali, lubernya limbah tempe sampai memenuhi sebagian besar lahan pak Man. Warnanya putih susu kekuningan. Baunya tertinggal beberapa hari di lingkunganku. Mungkin ada protes atau atas kesadaran warga pembuang limbah, akhirnya, entah oleh siapa, dibuatlah gorong-gorong yang lebih mapan, sehingga limbah tempe bisa mengalir dan jatuh tepat di atas selokan, tanpa mampir dulu di rerumputan taman. Lumayan, tidak ada lagi bau ‘harum’ itu. Asal tahu saja, aku tidak pernah beli tempe langsung ke produsen itu. Nanti mereka besar kepala merasa aku memaklumi tindakan mereka membuang limbahnya sembarangan.

Setelah pak Man meninggal, orang yang menunggu hasil kebunnya yang berupa kelapa, pisang, juga jambu air, sudah pada antri, bahkan sebelum dia meninggal pun mereka sudah pada rerasan. Anehnya tidak ada orang yang antri untuk mengurus sampah yang merupakan sampah mereka sendiri.

Tak Berjudul

September 19th, 2006 by andanya

Tubuh tuanya membungkuk, memunguti tas kresek hitam juga putih, bergambar, bertuliskan nama toko, bungkus shampoo, sabun mandi, bumbu masak, dedaunan kering, pelepah pisang dan kelapa, dan segala jenis maupun bentuk barang buangan lainnya. Kadang juga sobekan kain bekas sarung, serbet, mungkin juga celana dalam…Dikumpulkannya segala benda itu di dekat bak dari batu bata yang dulunya persegi, tapi karena dimakan usia, bukan lagi persegi, sudah pecah di bagian depannya dan menghitam.

Sisa dedaunan atau barang buangan yang kecil-kecil, tak terjangkau waktu dan tenaganya kalau dipungutinya satu persatu, disapunya dengan sapu lidi yang  panjangnya tinggal separuh dari ketika baru. Hasil sapuannya dikumpulkan bersama hasil pungutannya, ditumpuk membentuk gunungan kecil, lalu dibakarnya. Dia berjongkok di dekat bakaran sampahnya, layaknya menunggui ubi bakar untuk sarapannya. Sepotong ranting pohon digunakannya untuk membalik, menyogok, merapikan, dan mempertahankan nyala api bakarannya.

Tidak ada orang peduli. Orang lewat tanpa menyapa. Dia juga hanya diam sambil meneruskan kerjanya. Sebagian plastik ditanamnya membentuk bukit setinggi setengah meter, selebar kira-kira dua meter persegi, di atasnya ditanami pisang. Pekerjaan itu, katanya, sudah dijalaninya selama delapan belas tahun. Tidak heran, lahan dua meter persegi itu sudah rimbun dengan pepohonan pisang, juga pohon kelapa, serta jambu air di ‘bukit’ lainnya. Tidak peduli atau tidak tahu bahwa pisang atau jambunya akan tercemar logam berat karena ditanam dengan ‘pupuk’ plastik bungkus shampoo.

Kebunnya dibatasi tembok memanjang sebagai pembeda RT. Rumah-rumah di balik tembok dengan enaknya membuang sampah melewati tembok, jatuh di antara pohon-pohon pisangnya atau di sembarang tempat lainnya, jauh dari bak penampung jelek itu. Meskipun, kebanyakan masih takut dan sembunyi-sembunyi membuang sampah, tapi ada juga yang terus terang. Plung! Belakangan kuketahui, dia kadang memungut ‘pajak’ dari rumah-rumah itu.

Kadang lama dia tidak kelihatan, tidak sibuk di kebunnya. Rupanya pulang menengok anak perempuannya di mBojong, Wates. Atau pernah juga, karena kematian kakaknya. Barang buangan alias sampah yang bau dan bikin sepet pemandangan berserakan di kebunnya akibat ulah orang-orang di balik tembok. Ulah orang kompleks tepatnya para PRT-nya, juga membuat semakin bertumpuknya sampah. Dibungkus ‘kresek’ hitam ditaruh begitu saja di bawah pohon kelapa, malas mendekatkannya ke bak penampungan, karena bau, agak becek, juga jelek. Lebih parah lagi, pemulung yang datang, seperti juga kucing-kucing liar di sekitar kompleks, mencabik-cabik kresek isi sampah untuk mencari dan mengambil yang masih bermanfaat. Kresek kosong beterbangan kena angin, jatuh di selokan yang airnya hitam pekat malas mengalir untuk menemani dedaunan yang sudah menumpuk di sana. menambah berat aliran airnya.

Tinggalah aku merana memandangi bagian depan rumahku yang kumuh.

Sebulan terakhir lelaki tua itu sering sekali tidak kelihatan. Suatu hari dia ‘melapor’ bahwa dia sakit, tidak kuat bekerja. Tekanan darah rendah, ditambah sakit gigi. Tidak ada uang, untuk ke dokter, juga untuk makan. Tubuhnya semakin ‘tipis’. Menantu lelakinya yang tinggal bersamanya tidak peduli, bahkan hanya untuk segelas teh manis. Dia minta air ke rumah untuk minum, hanya air putih. Cangkirku sampai sekarang belum kembali.

Jumat Kliwon, 15 September 2006, jam empat sore, ada orang datang memberi tahu: "Pak Man sampun mboten wonten." Padahal paginya, baru kusuruh pembantuku mencarikan vitamin di apotik dekat sekolah yang ternyata habis. Terlambat. Dia sudah meninggal. Tidak ada lagi orang peduli pada sampah di depan rumahku, seperti juga hidup dan kematiannya, tidak ada yang memedulikan.

Jajanan Anak Sekolah

December 1st, 2005 by andanya

Gara-gara menunggui anak sekolah membuatku akrab dengan kantin sekolah. Entah hanya untuk menikmati soto mie atau minum teh manis hangat bersama para ibu sesama penunggu dan penjemput, yang jelas, aku sudah menjadi pengamat kantin yang, tentunya, amatiran.

Kantin ini letaknya di bagian belakang sekolah. Lokasi ini hanya sementara sebelum dipindahkan ke basement. Yang dijual di kantin ini beragam, dari makanan sampai mainan. Makanan pun beragam, dari makanan angkringan: soto mie, mie ayam, burger dan hotdog, kupat tahu, lontong sayur, batagor, sampai makanan kemasan baik yang bermerek terkenal maupun yang tidak. Demikian juga minuman.

Kantin menjadi harapan bagi para murid. Jarak rumah-sekolah yang jauh membuat anak-anak harus berangkat lebih pagi, sehingga membuat mereka tidak sempat sarapan. Kantinlah harapan mereka agar tidak kelaparan saat menerima pelajaran. Kantin sekolah ini melayani murid yang jumlahnya sekitar 1500-an itu minimal dua kali sehari: pada jam istirahat pertama dan kedua.

Kantin juga menjadi harapan para ibu untuk menikmati sarapan dengan tenang setelah terburu-buru menyiapkan anak berangkat sekolah. Jam pulang sekolah anak yang tidak terjangkau jika harus pergi-pulang, membuat mereka menunggu di sekolah. Kantin juga menjadi penyedia makan siang anak, karena jelas para ibu itu tidak sempat lagi masak kalau harus berada di sekolah sepanjang siang.

Ketergantungan terhadap kantin yang begitu besar serta kebiasaan jajan yang sudah terbentuk, membuatku khawatir akan kesehatan anak-anak itu di masa depan. MSG yang ditaburkan ke dalam mangkok soto atau mie ayam, saos tomat dan sambal yang dituangkan di atas roti burger dari botol minuman plastik yang penyok karena panas, minyak yang sudah berulang kali dipakai untuk menggoreng batagor, atau minuman kemasan yang warnanya ‘menor’, apa jadinya jika dikonsumsi setiap hari. Terlebih lagi jika anak-anak tidak puas dengan jajanan kantin, mereka akan berlari ke luar halaman sekolah, yang sebetulnya dilarang, untuk membeli makanan yang lebih seram baik kemasan maupun kandungannya.

Kekhawatiranku terbukti dengan dimuatnya penelitian tentang jajanan sekolah beberapa waktu lalu di harian Kompas. Ternyata betul dugaanku bahwa banyak jajanan sekolah yang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan. Tulisan itu setidaknya dapat mendorong para ibu untuk sedikit bekerja keras mempersiapkan sarapan dan bekal anak dari rumah, serta mengawasi pembelanjaan uang jajan mereka. dari hasil ‘wawancaraku’ dengan anak-anakku, sedikitnya murid SD membawa uang lima ribu rupiah sehari untuk jajan, yang SMP tentu lebih banyak lagi. Hasil penelitian itu juga dapat membuka pikiran anak-anakku mengapa aku agak ‘pelit’ soal uang jajan. (anakku yang paling besar sering memrotesku perkara itu, karena aku hampir tidak pernah memberinya uang jajan ekstra. Dia hanya menerima uang bulanan yang menurutnya tidak cukup untuk jajan tambahan.)

Belajar dari Anak (3): Ibu yang Biasanya

August 8th, 2005 by andanya

Situasi dan tempat yang baru membuatku sedikit tegang, sehingga aku jadi lebih banyak cerewet kepada anak-anakku. Kecerewetanku muncul terutama jika mereka harus selalu terus-menerus diingatkan untuk apa yang seharusnya sudah rutin mereka lakukan, seperti menjadwal pelajaran untuk besok pagi, memakai sepatu, menyiapkan perlengkapan sekolah, dan lain-lain. Hal itu terutama terjadi pada anak laki-lakiku, Garda.

Hal-hal yang lucu sering terjadi pada Garda. Spontanitasnya yang tinggi dan sering tidak fokusnya dia pada hal yang dikerjakannya, maka sering terjadi, misalnya kaus kaki yang seharusnya dipakai di dua kaki, dipakainya di satu kaki, lalu dia akan kebingungan mencari kaus kaki yang satu. Lalu kami akan sibuk membantu mencarikan. Dan kejadian lain yang tak kalah lucu, sekaligus menjengkelkan.

Karena rasa bersalah, maka pada suatu malam, sebelum tidur, kuceritakan padanya keinginanku, bahwa aku ingin menjadi tidak cerewet, tidak perlu selalu mengingatkan dia. Aku ingin dia sudah tahu apa yang seharusnya dia lakukan. Jadi, aku cukup diam saja.

Kejutan yang kuterima adalah ketika dia menjawab, "Aku nggak suka ibu diam saja. Aku suka ibu marah, ngingetin aku, karena itu ibu yang biasanya. Kalau ibu diam saja, aku malah jadi takut."

Entah dia menerimaku apa adanya atau dia menganggap kecerewetanku sudah tidak berkhasiat lagi, aku tidak tahu. Setidaknya, dia tahu keinginanku.

PINDAH (2): Jogja-Jakarta

August 8th, 2005 by andanya

Pindah, seperti yang sudah kunyatakan, adalah hal yang bisa dan biasa dialami setiap orang. Yang membuatnya menjadi tidak biasa adalah ketika kutemukan bahwa aku sudah terikat dengan tempatku yang lama: Jogjakarta.

Di Jogja aku jarang bermasalah dengan waktu, jarak tempuh. Artinya, di Jogja aku hampir tidak pernah kena macet di jalan yang menyebabkan acaraku kacau. Paling-paling ‘kebanan’ (kalau ini terjadi di Jakarta, penderitaan segera dimulai!).

Sekarang aku tinggal di Jakarta. Dari waktu bangun pagi, waktu berangkat sekolah, sampai waktu menjemput anak harus dipersiapkan betul-betul. Setelah sekian minggu, kupelajari, terlambat lima menit saja berangkat sekolah, anakku akan terlambat masuk. Kalau terlambat, pintu gerbang sudah dikunci. Kalau pun berhasil masuk, maka sanksi sudah menanti. Karenanya, setiap pagi aku menjadi ibu yang cerewet, mengingatkan untuk mandi, untuk jadwal seragam yang dipakai (jadwal tidak sama untuk setiap anak), untuk sarapan, untuk tidak lupa membawa bekal (sekolah mereka mewajibkan murid untuk membawa bekal sendiri), dan lain-lain. Sibuknya melebihi ibu-ibu yang bekerja!

Di Jogja, sekali pun aku juga melakukan hal sama untuk anak-anakku, tapi aku tidak perlu tegang, takut mereka terlambat. Jakarta telah mengubahku jadi ibu cerewet!Wah!

Semoga, di bulan-bulan depan, ketegangan dan kecerewetanku berkurang atau malah menghilang. Apakah itu artinya aku jadi tidak peduli lagi atau memang sudah bisa mengatasi masalah? Itulah yang belum kuketahui.

PINDAH (1):Penyesuaian Diri

August 8th, 2005 by andanya

Pindah. Itu aktivitas yang bisa dan biasa dialami setiap orang. Yang sering menjadikannya tidak biasa adalah ketika orang sudah sangat terikat pada tempat yang lama. Bukan hanya tempat, tapi juga benda, manusia-manusia yang ada di tempat lama itu. Itulah yang kami alami.

Kami sekeluarga pindah rumah, pindah kota. Hal yang sudah dibicarakan, dipersiapkan beberapa bulan sebelumnya. Meski demikian, tetap saja hal itu menyisakan masalah: penyesuaian diri.

Anakku yang sulung, remaja kelas 8, hingga hari ini, setelah tiga minggu berada di tempat baru masih tampak tidak gembira. Ada saja keluhannya: air yang tidak sesuai dengan rambutnya, jerawat yang muncul di wajah, teman-teman yang terlalu serius, guru-guru yang membosankan, sekolah yang terlalu banyak aturan, pelajaran yang semakin sulit…

Keterikatannya dengan ‘peer group’-nya di kota yang lama memang wajar, juga kecenderungannya dalam memperhatikan penampilan, kemalasannya belajar. Semua khas remaja. Jadi kupikir tidak perlu khawatir berlebihan, mudah-mudahan dia cepat menemukan semangatnya kembali. Kami orang tuanya berusaha mengamati perubahan yang terjadi pada dirinya. Sejauh masih normal, rasanya, kami, terutama aku, tidak perlu resah.

Belajar dari Anak (2):menangis bahagia

June 20th, 2005 by andanya

Kanya (5) dipotret.
Tampaklah seorang anak perempuan, duduk di depan kue ulang tahun kelimanya. Matanya berkaca-kaca.
Kutanya, “Mengapa menangis, padahal kan sedang ulang tahun?”
Jawabnya, “Karena senang sekali.”
Surprise untukku. Mengidentifikasi perasaan kadang jadi hal yang sulit.
Anak kecil biasanya menangis karena marah, kecewa, sebab permintaannya nggak keturutan.
Nah, ternyata Kanya sudah bisa menyatakan kebahagiaannya dengan menangis.